HUTANG ITU SEPERTI API

Hutang itu seperti api, pakainya harus sangat hati-hati sekali. Masih kecil jadi kawan, sudah besar jadi lawan. Salah pakai, hutang bisa membakar diri, bisa buat rumah hilang dan segalanya habis.

Yang banyak itu pinjaman tanpa agunan, belum ada pinjaman tanpa angsuran sampai saat ini. Mau hutang jenis apapun, pasti harus di bayar.

Ada yang mau kasih pinjaman, bagus, artinya dipercaya. Tapi bila tidak sedang ada kebutuhan kan tidak wajib pula diambil. Apalagi tidak pernah ada pengalaman dengan hutang, resiko.

Soal hutang ini paradox. Yang boleh berhutang itu justru adalah orang yang punya dana, bukan yang tidak punya dana. Dan yang boleh berhutang adalah yang sudah punya sumber pendapatan, bukan yang belum ada penghasilan. Karena sifat hutang itu tambahan modal, bukan modal satu-satunya.

Kalo gak percaya, coba saja ke Bank, bilang mau pinjam uang, tapi tidak ada penghasilan, dan sedang tidak ada duit sama sekali. Lihat bank kasih gak.

Btw, tidak semua hutang perlu jaminan. Ada hutang yang tidak perlu jaminan, namanya Pinjaman Tanpa Agunan. Kartu kredit termasuk salah satu bentuk pinjaman tanpa agunan.

Bunga pinjaman tanpa agunan biasanya lebih tinggi dari pinjaman dengan agunan, karena resiko si pemberi pinjaman juga lebih besar. Pakai agunan saja orang berani gak bayar, apalagi tanpa agunan.

Ada lagi jenis hutang yang boleh hanya bayar bunga saja, namanya Pinjaman rekening Koran (PRK).

Pinjaman jenis ini mirip seperti kartu kredit, si peminjam diberikan plafon / limit tertentu untuk dipakai. Peminjam cukup bayar bunga sebesar dana yang dipakai dikalikan jumlah hari terpakai saja . Beda dengan KPR yang sejak bulan awal pun bayar bunga atas plafon full.

BACA JUGA :   ADA UANG TAK ADA REZEKI

Pada PRK, bila plafon pinjaman yang di berikan 300 juta, hanya terpakai 30 juta saja selama 3 hari, maka cukup bayar bunga 3 hari atas 30 juta itu saja, tidak atas 300 juta. Sementara bila KPR, plafon 300 juta, terpakai tidak terpakai maka setiap bulan bayar bunga dan pokok atas 300 juta itu.

PRK menarik dipakai pada jangka pendek dan sebagai solusi kebutuhan mendesak, misal : ada kesempatan trading dengan keuntungan 20%, tapi dana tidak mencukupi, dana baru ada pada hari ke 4, padahal sekarang harus bayar. Daripada pinjam ke rentenir dengan bunga/bulan 5% ke atas, PRK lebih oke, pakai dana, hari ke 4 kembalikan, sehingga hanya kena bunga atas 3 hari pemakaian saja.

Yang gawat itu bila PRK dipakai full limit untuk jangka waktu panjang. Pengguna dana ada resiko tergulung oleh bunga PRK. Apalagi dana yang dipakai besar.

Resiko muncul karena keuntungan bisnis belum tentu sebesar bunga yang wajib di bayar. Misal : untung hasil usaha setahun 12 M, tapi bunga PRK 15 M, minus 3M. Makin hari bunga ini makin menjadi beban bagi peminjam. Yang seperti ini cepat atau lambat kapalnya pasti karam.

Mau pakai teori siapapun, yang namanya akal sehat pasti harus jalan. Bisnis yang sehat cashflow nya harus positif. Untung harus ada, dana cash mesti punya. Tidak bisa isinya hari ke hari hanya cari duit buat bayar bunga. Gali lubang sini buat tutup lubang sana. Yang model seperti itu sebetulnya sedang kerja atau dikerjain ?