KARYAWAN JADI PENGUSAHA

Mereka yang sedang menjalani fase peralihan dari karyawan menjadi pengusaha seringkali berhadapan dengan badai di tengah perjalanannya.

Bisa dipahami, mengingat ini dua dunia yang berbeda sama sekali.

Dunia yang satu seperti akuarium yang makan penghuninya dikasih.

Dunia satunya lagi seperti hidup di alam liar yang makan mesti cari sendiri. Belum tentu dapat, dan bisa-bisa malah jadi makanan yang lain.

Banyak yang melompat ke dunia baru ini dengan pengetahuan yang minim, tanpa keahlian, dan tanpa pembimbing.

Jadinya seperti menyelam di rawa nan gelap. Maju sambil terbentur di sana sini. Berdarah-darah, penuh peluh dan luka.

Tanpa keinginan yang kuat bisa-bisa balik arah dan lompat balik masuk akuarium lagi.

Asumsi bahwa jadi pengusaha itu mudah ternyata penuh dengan syarat dan ketentuan.

Mudah asal tahu ilmunya, mudah asal sudah dapat caranya, mudah asal paham, mudah asal ada pengalaman nya.

Masalahnya, namanya pemula ya belum ada semuanya. Andai pun ada yang kasih tahu, belum tentu juga ngerti. Seringkali harus dijalani sendiri baru bisa keluar AHA dan OHHH nya.

Banyak pemula yang tidak sabaran, maunya segera mulai, jadinya melewati banyak proses yang seharusnya dilakukan.

Harusnya direncanakan dulu, susun anggaran, eh dilewati, akhirnya kurang modal di tengah jalan. Harusnya riset pasar dulu, eh tapi main buka saja, akhirnya bisnis sepi. Dan hal-hal semacam ini, sangat sering terjadi.

Semua karena para pemula MENGANDALKAN ASUMSI dalam pikiran semata yang sialnya bisa jadi sangat berbeda dengan realita.

Pengusaha kuliner pemula misal, bisa terjebak pada asumsi “keberhasilan bisnis terletak pada jenis item di menu yang harus banyak”. Akibatnya menimbun begitu banyak stok bahan baku yang tidak terpakai dan jadi rusak

BACA JUGA :   BERMAIN SAMBIL BEKERJA

Mereka lupa, banyak warung Bakso dan Sate yang ramai bukan main, padahal hanya single item Bakso dan Sate itu yang jadi jualannya.

Artinya jumlah item menu bukan jadi kunci juga. Buktinya dia yang banyak menunya malah gagal, yang sedikit malah sukses.

Orang-orang setia ke warung Bakso dan Sate bisa jadi karena hal yang “sepele”, karena persistensi rasa. 5 tahun lalu dan hari ini rasanya masih sama persis, tidak berubah.

Nah, urusan menjaga konsistensi rasa saja para pemula banyak yang belum lulus. Resep dan metode belum di baku kan.

Rasa makanan buatan si A dan B masih berbeda. Mending bila sama sama enak, tapi bagaimana bila salah satu atau keduanya gak enak ? Rusak lah bisnis. Pelanggan akan kabur dan bisnis jadi makin sepi dari hari ke hari.

Tapi dasar pemula, bukannya melihat ke arah inkonsistensi rasa sebagai penyebab, pemula malah berpikir menambah varian sebagai solusi.

Ya, para pemula seringkali melihat ke arah yang salah untuk menemukan jawaban. Haihh…

Yang sabar-sabar sajalah kumpulkan ilmu dan pengalaman untuk para pemula. Jalan sukses memang panjang. Kalau pendek namanya kwetiau.