KONGSI-KONGSI YUK

Ada teman meminta tips untuk membangun kongsi bisnis makanan. Ini pendapat saya :

Diawal tentukan dulu, mau besaran modal ikut kebutuhan bisnis. Atau kebutuhan bisnis ikut modal yang ada.

Soalnya, kalo main terjun tanpa perencanaan, bisa jebol keuangan. Tar kalau perlu inject dana tambahan belum tentu semua siap.

Ada yang bilang dananya sudah habis lah, ada yang sudah kepakai ditempat lain. Ada yang istri gak setuju. Ada yang emang keberatan saja suntik duit tambahan.

Bisnis kurang modal itu seperti orang kurang darah, mau jalan susah. Bisa pingsan di tengah jalan. Kalo gak ada yang nolong bisa mati.

Kembali soal modal, modal ikut bisnis, artinya siap kucur berapapun demi bisnis bisa jalan. Bila dana di kantong tebal, dan hasil usaha bisa cocok ya boleh saja.

Bisnis ikut modal, artinya keperluan bisnis disesuaikan dengan dana terkumpul yang ada, misal sekian Rupiah.

Merek, model, type, jenis dari berbagai peralatan dan perlengkapan diatur agar cukup dengan dana yang ada.

Lalu, kalo urusan modal sudah beres, pertajam konsepnya, mau bisnis apa yang seperti apa. Soalnya kesepakatan kerjasama itu harus jelas OBJEK yang dikerjasamakan

Tahap berikutnya, rembuklah dulu sebelum ke notaris tentang peran masing-masing.

Apa seluruh pemegang saham hanya keluar modal semata dan urusan tenaga pakai professional full buat jalanin, atau ada pemegang saham yang aktif ikut kerja.

Yang aktif kerja ini baiknya terima gaji, jangan kerja bakti, soalnya dibelakang bisa bunyi “kan saya kerja lebih banyak”, ujung ujungnya merasa paling berjasa. Kalo terima gaji, maka ya wajar kerja dan aktif.

Lalu, pemegang saham yang ikut kerja harus pada posisi yang sesuai kompetensi. Jangan asal pasang.

BACA JUGA :   BUAH TUMBUH DALAM SUNYI

Misal : yang ramah dan rame ditugasi di depan hadapi pelanggan. Yang detail dan berjiwa analitik duduk di bagian audit, yang suka jalan-jalan dan punya banyak teman keluar cari orderan.

Bila sudah terjawab, lanjut bahas lagi di internal semua pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sampai jelas :
– apakah kerjasama berbentuk badan hukum (PT/CV) atau non badan hukum
– besaran pembagian modal
– semisal butuh penambahan modal seperti apa
– semisal ada yang mundur di tengah jalan modalnya gimana
– pengambilan keputusan, apa diberikan kuasa kepada pihak tertentu untuk memutuskan, atau dengan rembuk saja
– kalo ada perselisihan bagaimana penyelesaiannya
– apakah boleh di dalam masa kerjasama ada yang buka usaha sejenis
– apakah boleh ketika ada yang keluar kemudian buka usaha yang sama
– kapan kerjasama dianggap berakhir

Catat semua hasil kesepakatan, berikan kepada notaris satu salinan nya. Notaris akan membantu membuat draft dengan bahasa hukum yang lebih baik.

Tidak di sarankan sampai di notaris baru mau konsep kan, bisa rame, ribut, dan makan waktu untuk capai kata sepakat.

Dan tenang, pakai jasa Notaris itu gak mahal kok, sekitar 2-3 juta bisa dapat 1 kesepakatan yang sah dan diakui negara.

Jalan di atas kesepakatan itu lebih baik, besok-besok semua tinggal fokus gedein bisnis, tidak saling berdebat tentang ini dan itu lagi. Itu baru Pro..!