PENDAPAT MAYORITAS

Dalam bisnis, mendengarkan pembeli itu bagus, tapi lebih penting adalah mendengarkan pembeli mayoritas.

Bayangkan Anda membuat kebijakan penting yang mengakomodir pendapat pembeli, sampai melakukan perubahan pada produk dan layanan, namun itu ternyata adalah pendapat segelintir orang saja, bukan mewakili pendapat pembeli utama Anda.

Ya jelas para pembeli utama menjauh karena produk dan layanan yang sekarang bukan yang mereka inginkan.

Tapi, bagaimana bisa terjadi pendapat minoritas yang malah dijadikan rujukan ? Rasanya terdengar tidak masuk akal bukan ?

Bisa terjadi bila BISNIS ANDA SEPI, dan ANDA MELAKUKAN SURVEY / MINTA PENDAPAT KEPADA PEMBELI YANG ADA.

Pembeli pada bisnis yang sepi adalah para minoritas. Yang mayoritas adalah PARA “PEMBELI” YANG TIDAK JADI BELI.

Pendapat para mayoritas ini TIDAK terkomunikasikan dan tertampung karena mereka pergi sebelum pendapatnya didapat.

Untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, kita harus MENANGKAP apa yang sebetulnya BELUM SESUAI menurut pasar mayoritas ini, sehingga mereka membatalkan keinginan beli mereka.

Produk sudah oke, lokasi oke, tampilan outlet oke, promosi oke, brand oke, tapi omzet masih gak oke..? Ada sesuatu artinya.

Para manager dan pemilik bisnis seringkali GR bahwa usahanya sudah maksimal, cara nya sudah tepat, strategi nya sudah paling oke.

Tapi mereka lupa, bila semua sudah oke, mengapa bisnis tidak maksimal ? Mengapa kadang ada untung kadang gak ada ?

Melihat kebenaran suatu usaha / cara / strategi itu adalah dari BUAHNYA.

Semua bisa bilang mereka sudah melakukan yang benar, tapi bagaimana BUAHNYA? sesuai yang diinginkankah ? Bila belum, artinya ada sesuatu yang belum tepat.

Menyangkal ada masalah hanya membuat kita tidak beranjak kemanapun.

Tahu ada masalah adalah awal dari perbaikan. Tahu masalah apa yang harus diselesaikan adalah setengah penyelesaian. Setengahnya lagi ? ya action, benerin.

BACA JUGA :   VIEW JAUH DEKAT